Sejarah Metode Bisnis Waralaba (franchise)

/Sejarah Metode Bisnis Waralaba (franchise)

Sejarah Metode Bisnis Waralaba (franchise)

Sumber: newsnish

Mari kita sejenak menelisik bagaimana sejarah perkembangan metode ekonomi yang menjadi andalan para pelaku bisnis untuk mengembangkan usahanya ini. Franchise atau walaba pertama kali diperkenalkan oleh pembuat mesin jahit Singer pada tahun 1850, yaitu Isaac Singer. Singer ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya itu menggunakan metode francise ini. Meskipun usaha Singer gagal, akan tetapi dialah yang pertama kali memperkenalkan bisnis ini di Amerika Serikat. Sejak saat itu, Waralaba mulai berkembang dan banyak memiliki pengikut, salah satu pewaralaba yang sukses adalah John S. Pemberton. John adalah pewaralaba minuman soda hitam yang sudah tidak asing kita dengar, yaitu Coca Cola.

Untuk sekarang ini bisnis waralaba lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer di Amerika membuka restoran cepat saji yang sukses. Howard Deering Johnson pada tahun 1935 bekerja sama dengan Reginald Sprague mengembangkan waralaba untuk memonopoli usaha restoran modern. Mereka membiarkan rekan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, logo dan bahkan membangun design toko yang sama sebagai pertukaran dengan suatu perjanjian pembayaran. Seiring berjalannya waktu, bisnis waralaba ini mengalami banyak penyempurnaan terutama pada tahun 1950 yang disebut dengan waralaba generasi kedua.

Baca Juga:  6 langkah untuk keluar dari pekerjaan Anda dengan benar

Selain di bidang bisnis makanan, sistem waralaba juga digemari oleh masyarakat tempat asalnya, yaitu Amerika Serikat untuk  membangun bisnis lain. Bisnis waralaba mencapai 35% dari keseluruhan ritel yang ada di AS. Bisnis waralaba ini juga berkembang di Inggris. Perkembangan bisnis waralaba dirintis oleh J. Lyons pada tahun 1960 melalui usahanya Wimpy And Golden Egg. Sejak saat itu bisnis waralaba ini mulai menyebar di beberapa negara.

Peraturan pada bisnis ini sendiri tidaklah sulit.  Di Amerika Serikat, peraturan bisnis waralaba dimulai pada tahun 1956  sejak diterima dan diundangkannya “The Automobile Dealer Franchise Act” Tujuan luhur dari peraturan ini adalah untu memelihara keseimbangan kekuasaan antara pembuat mobil dengan dealer (penerima waralaba). Hukum ini memungkinkan dealer untuk mengajukan tuntutan di Pengadilan untuk mendapatkan ganti rugi dari pembuat mobil apabila tidak memenuhi persyaratan di perjanjian waralaba.

Perkembangan bisnis waralaba sangat dipengaruhi faktor kepastian hukum dan perlindungan hukum. Untuk saat ini perlindungan hukum terhadap kegiatan bisnis waralaba di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah RI nomor 42 tahun 2007 tentang waralaba. Perlindungan untuk HAKI juga sudah di perkuat dengan  UU HAKI.

Waralaba di Indonesia sendiri terdiri dari Waralaba lokal dan Waralaba Asing. Waralaba asing (dari luar negeri) cenderung disukai karena sistemnya lebih jelas, mereka sudah diterima di berbagai Negara, dan dirasakan lebih bergengsi. Namun demikian, waralaba asing umumnya menetapkan syarat keanggotaanyang lebih ketat dan mahal, sehingga sulit untuk diakses untuk pengusaha UMKM. Sedangkan waralaba lokal lebih disukai pengusaha UMKM terutama oleh orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengalaman bisnis yang cukup. Syarat keanggotaan waralaba lokal lebih mudah dan lebih murah sehingga mudah diakses oleh pengusaha UMKM.

Baca Juga:  Gaji yang Tepat Untuk Pekerja Wanita

Perkembangan jaringan bisnis Waralaba di Indonesia saat ini sudah tergolong pesat dan melibatkan pemberi waralaba dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Sekarang ini ada sistem waralaba yang membuat usaha dari luar negeri bisa dikembangkan ke pelosok daerah dalam Negara, yaitu dengan menggunakan Master Franchisee. Metode ini membuat penerima waralaba mendapatkan hak dari pemberi waralaba asing untuk menunjuk pihak lain sebagai penerima waralaba lanjutan. Sehingga yang bertindak sebagai Master Franchisee ini seolah-olah sebagai cabang induk dari pemberi waralaba pusat.

Sangat menarikkan sistem bisnis satu ini?

Referensi:

|Hariyani, Iswi & Serfianto, R. “Membangun Gurita Bisnis Franchise”. 2011. Yogyakarta: Pustaka Yustisia

 

By | 2017-09-08T09:56:06+00:00 September 6th, 2017|Bisnis, General, Pekerjaan|0 Comments